Revolusi digital dan era disrupsi teknologi merupakan istilah lain dari
industri 4.0. Hal ini disebabkan oleh terjadinya proliferasi komputer dan
otomatisasi pencatatan di semua bidang. Industri 4.0 dikatakan era disrupsi
teknologi karena otomatisasi dan konektivitas di sebuah bidang akan membuat
pergerakan dunia industri dan persaingan kerja menjadi tidak linear. Salah satu
karakteristik unik dari industri 4.0 adalah pengaplikasian kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (Tjandrawinata, 2016). Era revolusi industry 4.0 ini juga
memberikan perubahan besar pada struktur mental melalui cara berpikir, cara
meyakini, dan cara bersikap (Suwardana, 2017).
Untuk menghadapi era revolusi industry 4.0, dibutuhkan pendidikan yang
bisa membentuk generasi kreatif, inovatif, dan kompetitif. Selain itu juga butuh
Sumber Daya Manusia yang berwawasan unggul, profesional, berpandangan jauh
ke depan, dan percaya diri (Ginanjar, 2015). Senada dengan hal itu, Menristekdikti (2018) mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang harus
dipersiapkan dalam menghadapi era revolusi industri 4.0: Sistem pembelajaran
inovatif untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif dan terampil terutama dalam
aspek data literacy, technological literacy and human literacy; Rekonstruksi
kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif; Sumber
daya manusia yang responsive, adaptif dan handal, dan; Perbaikan sarana
prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi. Memasuki era globalisasi pada abad ke-21 ini, pendidikan di Indonesia
menghadapi tantangan besar, baik dilihat dari usaha pemerataan, perluasan akses, peningkatan mutu, relevansi, daya saing, efisiensi manajemen pendidikan, maupun optimalisasi sumber daya serta terwujudnya pencitraan publik. Indonesia
sendiri sudah menyadari pentingnya keterampilan abad 21 sebagaimana yang
dituangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan tahun 2010, sehingga, dampak yang berkembang dari globalisasi dan masyarakat pengetahuan telah
membuat banyak orang berpendapat bahwa keterampilan abad ke-21 sangat
penting (Lewin dan McNicol, 2015: Van Laar, et. Al: 2017). Dengan demikian, tantangan revolusi industri 4.0 ini harus ditanggapi secara bijak oleh para
pemangku kepentingan (stake holders) dengan dikuasainya kemampuan literasi
data, teknologi, dan manusia.
Berbagai tantangan dalam dunia revolusi industri 4.0. yang menjadikan
dunia pendidikan kita kesulitan beradaptasi.
Pertama banyaknya SDM yang
kurang melek dalam literasi teknologi. Mereka disebut “Digital Immigrant” yaitu sebutan bagi pendatang di dunia digital. Mereka menghadapi anak muda
yang sudah digital yang disebut dengan “Native Digital” istilah penduduk asli di
dunia digital. Mereka menganggap sulit untuk mengejar literasi data dan teknologi
karena kurangnya kemmapuan untuk mengadaptasi dua literasi ini. Akhirnya, mereka menyerah dan terpaksa harus beradaptasi dengan native digital.
Kedua, literasi teknologi dan data merupakan literasi yang sangat luas dan
dinamis. Data yang pesat di dunia digital memerlukan energy yang sangat sulit
untuk dianalisis. Membedakan the truth dan hoax, menelusuri mana yang
referenced dan unreferenced, menyimpulkan kebenaran yang single atau yang
multiple merupakan hal rumit dalam literasi data. Hal inilah yang membuat
pendidik kesulitan untuk move up. Teknologi yang dahulu hanya computer
applied sederhana, sekarang sudah menjadi ribuan teknologi yang tidak terkejar
oleh pendidik. Android sebagi market leader dalam perangkat lunak telah
memberdayakan semua orang untuk berperan serta dalam membangun teknologi
perangkat lunak. Hingga produknya sangat banyak dan bervariasi. Begitupun, teknologi hardware yang sangat cepat dan kadang kita tidak bisa berpikir untuk
menghentikannya.
Dua hal inilah yang merupakan tantangan terbesar bagi pendidik dalam
mengikuti trend revolusi industri 4.0. Kadang pendidik zaman old telah
melemparkan handuk untuk tidak berpartisipasi di dalamnya dan mempercayakan
segala “kemajuan” ini kepada mereka yang muda. Tidak jarang pendidik tua tidak
ambisius dalam mengimplementasikan model-model pembelajaran zaman Now, mereka bahkan tidak sedikit yang menyinyiri kemajuan ini. Namun, bagi mereka
yang open minded pasti lebih memfasilitasi generasi muda yang native digital
citizen untuk mempelajari lebih dalam dan mereka mengikuti dari belakang.
Sumber : Dr.Miskiah.M.Pd
Penulis : Dr.Miskiah.M.Pd