24 September 2021

TANTANGAN GURU DALAM MENGHADAPI ERA INDUSTRI 4.0

         



           Revolusi digital dan era disrupsi teknologi merupakan istilah lain dari industri 4.0. Hal ini disebabkan oleh terjadinya proliferasi komputer dan otomatisasi pencatatan di semua bidang. Industri 4.0 dikatakan era disrupsi teknologi karena otomatisasi dan konektivitas di sebuah bidang akan membuat pergerakan dunia industri dan persaingan kerja menjadi tidak linear. Salah satu karakteristik unik dari industri 4.0 adalah pengaplikasian kecerdasan buatan atau artificial intelligence (Tjandrawinata, 2016). Era revolusi industry 4.0 ini juga memberikan perubahan besar pada struktur mental melalui cara berpikir, cara meyakini, dan cara bersikap (Suwardana, 2017). 

        Untuk menghadapi era revolusi industry 4.0, dibutuhkan pendidikan yang bisa membentuk generasi kreatif, inovatif, dan kompetitif. Selain itu juga butuh Sumber Daya Manusia yang berwawasan unggul, profesional, berpandangan jauh ke depan, dan percaya diri (Ginanjar, 2015). Senada dengan hal itu, Menristekdikti (2018) mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam menghadapi era revolusi industri 4.0: Sistem pembelajaran inovatif untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy and human literacy; Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif; Sumber daya manusia yang responsive, adaptif dan handal, dan; Perbaikan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi. Memasuki era globalisasi pada abad ke-21 ini, pendidikan di Indonesia menghadapi tantangan besar, baik dilihat dari usaha pemerataan, perluasan akses, peningkatan mutu, relevansi, daya saing, efisiensi manajemen pendidikan, maupun optimalisasi sumber daya serta terwujudnya pencitraan publik. Indonesia sendiri sudah menyadari pentingnya keterampilan abad 21 sebagaimana yang dituangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan tahun 2010, sehingga, dampak yang berkembang dari globalisasi dan masyarakat pengetahuan telah membuat banyak orang berpendapat bahwa keterampilan abad ke-21 sangat penting (Lewin dan McNicol, 2015: Van Laar, et. Al: 2017). Dengan demikian, tantangan revolusi industri 4.0 ini harus ditanggapi secara bijak oleh para pemangku kepentingan (stake holders) dengan dikuasainya kemampuan literasi data, teknologi, dan manusia. 

        Berbagai tantangan dalam dunia revolusi industri 4.0. yang menjadikan dunia pendidikan kita kesulitan beradaptasi. 

        Pertama banyaknya SDM yang kurang melek dalam literasi teknologi. Mereka disebut “Digital Immigrant” yaitu sebutan bagi pendatang di dunia digital. Mereka menghadapi anak muda yang sudah digital yang disebut dengan “Native Digital” istilah penduduk asli di dunia digital. Mereka menganggap sulit untuk mengejar literasi data dan teknologi karena kurangnya kemmapuan untuk mengadaptasi dua literasi ini. Akhirnya, mereka menyerah dan terpaksa harus beradaptasi dengan native digital. 

        Kedua, literasi teknologi dan data merupakan literasi yang sangat luas dan dinamis. Data yang pesat di dunia digital memerlukan energy yang sangat sulit untuk dianalisis. Membedakan the truth dan hoax, menelusuri mana yang referenced dan unreferenced, menyimpulkan kebenaran yang single atau yang multiple merupakan hal rumit dalam literasi data. Hal inilah yang membuat pendidik kesulitan untuk move up. Teknologi yang dahulu hanya computer applied sederhana, sekarang sudah menjadi ribuan teknologi yang tidak terkejar oleh pendidik. Android sebagi market leader dalam perangkat lunak telah memberdayakan semua orang untuk berperan serta dalam membangun teknologi perangkat lunak. Hingga produknya sangat banyak dan bervariasi. Begitupun, teknologi hardware yang sangat cepat dan kadang kita tidak bisa berpikir untuk menghentikannya. 

        Dua hal inilah yang merupakan tantangan terbesar bagi pendidik dalam mengikuti trend revolusi industri 4.0. Kadang pendidik zaman old telah melemparkan handuk untuk tidak berpartisipasi di dalamnya dan mempercayakan segala “kemajuan” ini kepada mereka yang muda. Tidak jarang pendidik tua tidak ambisius dalam mengimplementasikan model-model pembelajaran zaman Now, mereka bahkan tidak sedikit yang menyinyiri kemajuan ini. Namun, bagi mereka yang open minded pasti lebih memfasilitasi generasi muda yang native digital citizen untuk mempelajari lebih dalam dan mereka mengikuti dari belakang.

Sumber : Dr.Miskiah.M.Pd

Penulis : Dr.Miskiah.M.Pd


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SERTIFIKAT PEREMBESAN MATEMATIKA SMART 2022 32 JP

                                             Assalamu'alaikum War. Wab.                Alhamdulillah bapak/ibu guru di KKG Harun Thohir ...